Lokasi / Beranda / Bisnis / Irak-Suriah Bangun Lagi Pipa Minyak, Siapkan Jalur Alternatif selain Selat Hormuz
Irak-Suriah Bangun Lagi Pipa Minyak, Siapkan Jalur Alternatif selain Selat Hormuz

KOMPAS.com – Irak dan Suriah menandatangani kesepakatan untuk membangun kembali jalur pipa minyak yang menghubungkan kedua negara.
Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi jalur alternatif ekspor minyak selain melalui Selat Hormuz yang kerap dibayangi risiko geopolitik.
Kesepakatan itu ditandatangani pada Jumat (18/7/2026) dalam pertemuan puncak Kamar Dagang di Washington, Amerika Serikat, yang membahas investasi AS di Irak. Penandatanganan disaksikan Menteri Energi AS Chris Wright.
Perjanjian diteken CEO Basra Oil Company Bassem Abdul Karim Nasr dan CEO Syrian Petroleum Company Youssef Qablawi.
"Ada begitu banyak ruang untuk mendorong peningkatan di Irak, meningkatkan produksi minyak, mengurangi ketergantungan pada negara tetangga yang bermusuhan, serta menghadirkan kebebasan, kemakmuran, dan energi yang melimpah bagi Irak," kata Wright sebelum penandatanganan.
Kesepakatan itu bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Amerika Serikat. Dalam lawatan tersebut, ia juga bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa.
Pipa minyak yang akan dipulihkan membentang dari Kirkuk di Irak utara menuju pesisir Mediterania di Suriah.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), jalur tersebut memiliki kapasitas nominal hingga 700.000 barel per hari.
Pipa itu tidak lagi beroperasi sejak mengalami kerusakan saat invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.
Bagi Irak, proyek tersebut dinilai strategis karena negara itu selama ini sangat bergantung pada ekspor minyak melalui Pelabuhan Basra di Teluk Persia.
Keterbatasan jalur ekspor alternatif membuat Irak rentan terhadap gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Sebagai produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Irak juga terdampak oleh terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Data OPEC menunjukkan produksi minyak Irak turun lebih dari 50 persen menjadi sekitar 1,9 juta barel per hari pada Juni dibandingkan sekitar 4,2 juta barel per hari pada Februari, sebelum konflik AS-Israel dengan Iran meningkat.
Irak bukan satu-satunya negara yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Uni Emirat Arab tengah membangun jalur pipa kedua menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman yang akan menggandakan kapasitas ekspor minyak di luar jalur tersebut.
Sementara itu, Arab Saudi juga dilaporkan mempertimbangkan penambahan kapasitas pipa minyak menuju Laut Merah sebesar 2 juta barel per hari.
Meski demikian, sejumlah analis menilai pembangunan jalur pipa baru hanya mengurangi risiko gangguan di Selat Hormuz, tetapi belum menghilangkan ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan.
Pendiri Rapidan Energy, Bob McNally, mengatakan ancaman utama bukan hanya berada di jalur pelayaran.
"Masalahnya bukan jalur air. Iran dapat menggunakan senjata untuk menyerang fasilitas pemuatan, stasiun pemompaan, terminal, maupun fasilitas penyimpanan yang terhubung dengan jalur pipa tersebut," ujarnya.
Sebelumnya — Baku Tembak di Festival Toronto: 2 Orang Tewas, 4 Terluka
Selanjutnya — Lebih dari 80.000 Transmigran Belum Kantongi Sertifikat Tanah
Artikel Terkait
- Motor Listrik Murni Buatan Indonesia Dinilai Belum Realistis
- Kepergok Curi Kabel Rp 143 Juta, 2 Pria di Cikarang Ditangkap Polisi
- ADAKSI Desak RUU Sisdiknas Tak Komersialisasi Kampus dan Bergantung UKT Sepenuhnya
- PKB: Konflik Suku-Agama Berawal dari Persoalan Kemiskinan
- Anak Buah Purbaya: PFII Dibentuk agar Investasi Asing Masuk Jangka Panjang, Tak Mudah Keluar
- Ledakan Terjadi di Gudang Amunisi Madiun
- Kena PHK akibat Ketiduran 2 Menit, Ibu Tunggal di Jepara Bangkit Buka Usaha Jahit dan Sembako
- BMKG Ungkap Penyebab Suhu Dingin di Bandung, Lembang Capai 13,4 Derajat Celcius
