Lokasi / Beranda / Teknologi / Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas

Halaman depan rumah yang diaspal untuk diubah menjadi jalan masuk kendaraan merupakan faktor yang berkontribusi memperparah kenaikan suhu akibat krisis iklim.
Tren pengaspalan halaman depan sejak satu dekade lalu memperburuk pemanasan di siang hari dan pendinginan pada malamnya.Secara individual, alih fungsi kebun di halaman depan rumah menjadi jalan aspal untuk kendaraan kemungkinan tampak kecil.
Namun, seiring semakin banyaknya taman di rumah menghilang akibat peningkatan jumlah jalan masuk beraspal, muncul masalah kenaikan suhu yang menyita perhatian secara mendadak karena mereka kesulitan tidur.
Hanya sekitar 8 persen halaman depan rumah di Inggris yang sepenuhnya diaspal pada 2005. Angka tersebut meningkat tiga kali lipat menjadi sekitar 24 persen pada 2015.RHS memperkirakan ada 20,6 juta kebun rumah (depan dan belakang) di Inggris pada 2025, yang mencakup sekitar 502.757 hektar. Kebun-kebun rumah di Inggris secara keseluruhan mencakup area sekitar tiga kali lebih besar ketimbang gabungan semua cagar alam nasional.
Oleh karena itu, kebun rumah memiliki potensi yang sangat besar untuk mendukung kehidupan satwa liar.Menurut Research Fellow at the Sustainability Research Institute, University of East London, Karina Corada-Pérez, mengganti vegetasi dengan permukaan keras mengurangi habitat bagi tumbuhan dan satwa liar sekaligus meningkatkan limpasan permukaan dan risiko banjir."Keinginan akan lebih banyak tempat parkir di luar jalan mungkin telah berkontribusi pada tren ini. Pergeseran ke kendaraan listrik mungkin telah menciptakan insentif lain untuk mengaspal halaman depan, karena hibah pemerintah membantu rumah tangga membiayai titik pengisian daya di rumah," ujar Corada-Pérez, dilansir dari The Conversation, Jumat (17/7/2026).
Suhu permukaan tanah
Permukaan kedap air, termasuk aspal yang digunakan untuk banyak jalan masuk, menyerap panas, sehingga meningkatkan suhu tanah dan udara.
Permukaan ini menyerap hingga 95 persen radiasi matahari yang masuk selama siang hari, mencapai suhu permukaan 50–55°C (122–131°F), dibandingkan dengan 27–32°C (81–90°F) untuk area yang ditutupi rumput atau pepohonan .Pada siang hari, panas ini tersimpan dan dilepaskan secara perlahan setelah matahari terbenam atau disebut fenomena efek pulau panas perkotaan (urban heat island). Suhu udara malam hari menjadi lebih hangat , terutama selama gelombang panas.
Tidak seperti vegetasi, material keras ini mempunyai sedikit kemampuan untuk mendinginkan diri melalui penguapan dan membuat kota menjadi lebih panas.Urban heat island ini bisa meningkatkan suhu kota sebesar 1–3 derajat Celcius dibandingkan dengan daerah pedesaan sekitarnya. "Itulah mengapa selalu terasa lebih panas di kota pada malam hari di musim panas," ucapnya.
Di lingkungan perkotaan, ruang hijau melepaskan kelembapan ke udara, yang melembabkan atmosfer dan secara signifikan mengurangi suhu udara. Mekanisme tersebut sama sekali tidak ada di area yang diaspal.Mengganti halaman depan yang beraspal dengan rumput dapat mengurangi suhu permukaan siang hari sebesar 1,5–2,0 derajat Celcius dan suhu malam hari sebesar 0,3–0,5 derajat Celcius.
Dengan menambahkan pepohonan, kata dia, akan menggandakan manfaatnya, di mana pendinginan siang hari sebesar 2,0–3,0 derajat Celcius dan pengurangan suhu malam hari sebesar 0,5–1,0 derajat Celcius. Jadi, meningkatkan ruang hijau perkotaan sebesar 10 persen —terutama dengan menanam pohon— bisa menurunkan suhu udara rata-rata sekitar 0,5 derajat Celcius.."Halaman depan rumah yang ditanami tanaman, alih-alih jalan masuk kendaraan, juga dapat mengurangi risiko banjir dengan menyerap air hujan, menyaring polutan udara, mendukung keanekaragaman hayati , dan meningkatkan kesejahteraan mental," tutur Corada-Pérez.Sebelumnya, sebanyak empat dari lima rumah dan gedung perkantoran di 25 kota besar Eropa tidak memiliki tutupan pohon yang memadai untuk membantu menurunkan suhu di sekitarnya. Kondisi ini memperbesar risiko paparan gelombang panas di kawasan perkotaan yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.Temuan tersebut merupakan hasil penelitian yang dipimpin oleh peneliti Universitas RMIT Australia, Thami Croeser. Tim peneliti memetakan tutupan kanopi pohon dalam radius 60 meter dari sekitar 5,5 juta bangunan di Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Portugal, Yunani, dan Inggris.Hasilnya, sebanyak 84 persen bangunan berada di bawah ambang batas tutupan kanopi pohon yang dinilai mampu memberikan efek pendinginan secara signifikan.
Sebelumnya — Bangkai Paus di Pantai Jembrana Muncul Lagi, Lokasi Penguburan Tergerus Air Pasang
Selanjutnya — AHY Ungkap Rencana Pembangunan Infrastruktur Bali, Transportasi Massal hingga Taksi Air
Artikel Terkait
- Menhut Tak Ikut Rapat di DPR, Waka Komisi IV: Beliau Izin Umrah
- 3 Hal Paling Dinantikan dari A Shop For Killers 2
- Pengamat Sebut BBM Langka di Sumut Bisa Picu Harga Kebutuhan Pokok Naik jika Tak Segera Teratasi
- Purbaya Akui Sempat Tarik Dana SAL dari Himbara atas Permintaan BI
- Forbes Beritakan Prajogo Pangestu Berencana Beli Perusahaan Geotermal Filipina Senilai 89,7 T
- Pilih Rasuna Said Dibanding Bundara HI untuk CFD, Warga: Lebih Sepi, Lebih Fokus Olahraga
- Harga Sama, Ini Perbandingan Almaz RS Pro Hybrid VS XForce Hybrid
- Pakai Dana APBN, Revitalisasi Kawasan Keraton Solo Sasar 13 Titik
